Period. End of Sentence.
![]() |
Source: youtube |
Judul: Period. End of Sentence.
Produser: Melissa Berton, Garrett Schiff, Rayka
Zehtabchi, dan Lisa Taback
Sutradara: Rayka Zehtabchi
Produksi: Netflix
Durasi: 25 Menit
Tahun Rilis: 2019 (Netflix)
Period. End of Sentence. Begitulah judul film dokumenter
pendek ini. Film ini membahas perihal menstruasi dengan segala stigma dan permasalahannya. Arunachalam Muruganantham menjadi inspirasi
pembuatan film ini. Ia menemukan mesin
yang memproduksi pembalut dengan biaya yang terjangkau. Film ini disutradarai
oleh Rayka Zehtabchi dengan durasi kurang
lebih 25 menit. Film yang rilis tahun 2019 ini memenangkan Oscar untuk Film
Dokumenter Pendek Terbaik. Film ini dapat ditonton di Netflix dan Youtube.
Sinopsis
Distrik Harpur, 60 KM dari ibukota New Delhi, India-Para
gadis malu-malu untuk menjawab apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Ketika
seorang wanita lainnya ditanya mengapa hal itu bisa terjadi dan apa yang
sebenarnya terjadi di dalam tubuh, ia menjawab, “hanya Tuhan yang tahu, ini
darah kotor yang keluar”. Sementara yang lain menjawab, “bayi lahir dari itu”. Mereka
mengalami suatu hal yang lumrah terjadi pada wanita, yaitu MENSTRUASI.
Menstruasi adalah sebuah masalah, setidaknya begitu
anggapan mereka. Mereka mengira bahwa menstruasi terjadi karena ada hal yang
salah pada tubuh mereka. Para lelaki pun berkata demikian, menstruasi adalah
penyakit yang menyerang wanita. Ketika memasuki masa menstruasi, remaja
perempuan putus sekolah hanya karena tak dapat menemukan solusi untuk mengatasi
darah yang mengalir terus-terusan dari tubuh mereka.
Para perempuan memakai kain seadanya yang mereka
temukan untuk dijadikan pembalut. Bahkan kain yang kurang bersih sekali pun,
mereka pakai sebagai pembalut, kemudian mereka membuangnya di tempat yang
sekiranya tak ada orang yang akan menemukannya. Menstruasi menjadi hal yang
sangat tabu bagi masyarakat. Menstruasi tidak dibicarakan di tengah keluarga,
istri kepada suami, maupun sesama teman.
Arunachalam Muruganantham, pria pencipta mesin
pembalut wanita. Ia mempunyai misi untuk menjadikan India sebagai negara yang “100%
memakai pembalut”. Ia ingin para wanita India mendapatkan pembalut yang
terjangkau agar mereka semua dapat memakai pembalut ketika menstruasi. Para wanita
disekitar diajari cara membuat pembalut dengan mesin pembalut.
Mereka kemudian menjual pembalut yang diberi
merk Fly tersebut ke berbagai tempat. Bahkan, mereka menjualnya dari
pintu ke pintu sambil memberikan edukasi pada para perempuan tentang pembalut. Selain
itu, mereka juga mengadakan penyuluhan pembalut bagi para perempuan. Memperkenalkan
pembalut bagi mereka dan mengedukasi tentang betapa pentingnya memakai pembalut
yang bersih.
Mesin pembuat pembalut ini menciptakan lapangan
pekerjaan bagi para wanita, mereka bilang, “Anak perempuan tak punya banyak
kebebasan, terutama setelah pernikahan mereka”. Sedangkan lainnya berkata, “aku
mendapatkan rasa hormat dari suamiku sejak aku bekerja daripada diam di rumah”.
Hal ini seakan menunjukkan bahwa untuk mendapatkan rasa hormat, maka mereka juga
harus bekerja daripada hanya diam di rumah. Mereka juga seakan tak punya pilihan sebagai seorang wanita. Oleh
karena itu, mereka senang karena akhirnya mempunyai pendapatan sendiri dengan
bekerja dalam pembuatan pembalut ini.
Film ini membahas berbagai problematika
perempuan terutama menstruasi. Menstruasi menjadi hal yang sangat tabu bagi
mereka. Tidak ada yang membicarakan menstruasi, mungkin menstruasi adalah hal
yang memalukan untuk dibicarakan. Mereka tidak mendapat edukasi tentang
menstruasi dengan baik, hingga ketika tiba masa menstruasi, mereka agaknya
mendapat kesulitan karena hal itu. Produk-produk pembalut yang mahal tidak
mampu mereka beli. Mereka hanya memakai kain seadanya sebagai pembalut. Ketidakmampuan
membeli produk menstruasi inilah yang disebut dengan period poverty atau
kemiskinan menstruasi. Period poverty menyebabkan para remaja perempuan
putus sekolah dikarenakan darah yang terus menerus keluar membuat mereka
kesulitan.
Arunachalam Muruganantham, seorang pria dari
kalangan mereka yang memberikan perhatian atas hal ini. Ia menciptakan mesin
pembalut dengan harapan wanita-wanita India dapat membeli produk menstruasi
dengan harga yang terjangkau. Apa yang dilakukan pria ini patut diapresiasi. Ketika
pria-pria lain menganggap menstruasi adalah hal yang tabu, Arunachalam malah
memikirkan bagaimana caranya agar wanita dapat merasa aman dan nyaman ketika
sedang menstruasi. Ia juga membuka lapangan pekerjaan bagi wanita. Mereka bisa
bekerja di ‘pabrik pembalut’ dan memilki pendapatan.
Hal yang menjadi sorotan selanjutnya ialah bagaimana
seorang wanita seakan tak punya pilhan dalam hidupnya, tak punya kebebasan
terutama setelah menikah. Kalau mereka tidak bekerja dan hanya di rumah, mereka
tak dapat rasa hormat yang selayaknya. Ini adalah permasalahan perempuan yang
seolah dituntut untuk sempurna dan serba bisa. Namun, hak-haknya banyak yang
tidak terpenuhi. Dalam film tersebut diceritakan sedikit tentang seorang
perempuan yang bisa menjadi polisi. Ia menjadi dikenal.Orang-orang kampungnya
tahu siapa dia. Ayahnya juga menjadi dikenal karenanya. Selain itu, salah satu
perempuan mengatakan bahwa suaminya lebih menghormatinya karena ia memiliki
pekerjaan, yakni bekerja di ‘pabrik pembalut’ tersebut.
Sneha, salah seorang perempuan dalam film yang
bercita-cita menjadi polisi di Delhi. Salah satu alasannya adalah untuk
menyelamatkan dirinya dari pernikahan. Dari sini kita mendapatkan potret bahwa seolah-olah
perempuan harus bekerja keras agar mendapat sebuah penghormatan dan dihargai
oleh masyarakat terutama keluarganya sendiri serta dapat menentukan pilihan
hidupnya sendiri dan mendapatkan kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh
mereka.
Film ini sangat direkomendasikan untuk
ditonton. Pelajaran berharga banyak didapat dari film ini. Mata kita akan
semakin terbuka dengan mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dunia
ini. Syukur bagi kita yang hidupnya nyaman dan tidak merasakan apa yang
dirasakan oleh para perempuan tersebut. Aku sendiri sangat bersyukur karena
orang-orang disekitarku menganggap bahwa menstruasi adalah hal yang wajar. Mereka
juga menghormati dan menghargai diriku sebagai seorang perempuan.

Comments
Post a Comment