Telur Puyuh
Waktu itu, aku masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Aku tinggal di sebuah desa yang berada di lereng Arjuno sebelah timur. Aku tinggal di kampung padat penduduk. Rumah-rumah saling berhimpitan dan berhadapan.
Suatu ketika, anak perempuan itu sakit. Entah apa penyakit yang dideritanya. Ibunya menduga bahwa ini bukan penyakit medis, melainkan suatu hal yang tak dapat dijelaskan dengan nalar.
Ibunya meminta tolong pada seorang wanita paruh baya yang pintu rumahnya berhadapan dengan pintu rumahku untuk menemui seseorang. Ibuku mengantarkan wanita itu bersamaku.
Kami tiba di sebuah rumah. Aku benar-benar tak mengingat rupa rumah itu. Namun, samar-samar aku sedikit mengingat lokasi rumahnya.
Kami dibawa menuju sebuah kamar di rumah pria itu. Disana ada meja yang diterangi semacam lampu meja. Dia meletakkan segelas air di meja tersebut. Lalu memasukkan telur puyuh ke dalam air. Telur puyuh lainnya dia pegang di tangannya.
Aku tak tau apakah pria itu membaca mantra atau semacamnya. Pria itu lalu mengusap telur puyuh yang dipegangnya dengan jempol. Seketika, telur puyuh yang ada di dalam air berputar-putar.
Aku terkejut tidak percaya. Pria itu terus mengusap telur puyuh yang ada di tangannya dan telur puyuh yang di dalam air terus berputar. Sepertinya dia sedang mencari atau melihat sesuatu melalui perantara telur puyuh tersebut.
Kemudian pria itu berkata, "dia kena di kamar mandi". Ahh, sepertinya aku ingat sesuatu.
Jadi, waktu itu...
***
Aku sedang berada di kamar mandi. Anak perempuan itu adalah temanku. Dia anak dari pemilik rumah kontrakan yang kami huni saat ini. Waktu itu, dia sedang mandi dan memintaku menemaninya. Seperti biasa ibunya sedang memarahinya. Aku tak mengerti mengapa ibu itu sering memarahi temanku. Padahal menurutku, temanku cukup menjadi anak yang baik. Dia melakukan hampir semua hal yang ibunya suruh. Mungkin hanya sedikit memberontak saja. Tapi, ibunya sering memarahinya walau hanya melakukan kesalahan kecil saja.
Temanku menangis dan tampak sangat jengkel pada ibunya. Aku hanya diam saja meskipun aku merasa kasihan. Aku tak tau harus berbuat apa. Dia mandi sambil menangis.
***
Pria itu menyebutkan resep obat herbal pada kami. Aku hanya mengingat salah satu resepnya, yaitu tanaman adas pulosari.
Setelah membayar jasa pria itu, kami kembali pulang dan memberitahukan informasi yang kami dapat kepada ibu temanku beserta resep obatnya.
***
Kejadian itu sangat membekas dalam pikiranku. Dunia ghaib yang gelap itu nyata. Bahkan, manusia mampu melakukan interaksi dengan penghuninya. Aku tau bahwa manusia tidak punya kekuatan seperti itu kecuali orang-orang pilihan Tuhan. Namun, kalau mereka bekerja sama dengan penghuni dimensi lain... ahh aku tak tau. Yang jelas, aku percaya tapi aku tidak boleh lupa untuk melibatkan Tuhan yang menciptakan semesta ini.
-ditulis akhir oktober 2023 dengan ingatan yang sedikit samar namun tidak pudar.
Comments
Post a Comment