Kutemukan Tuhan dalam "Rumah Tuhan" (Catatan Kelana)
Tahun lalu, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku. Hidup yang tidak terlalu ambisius dan cenderung biasa-biasa saja. Keinginanku hanya bisa hidup dengan tenang dan melakukan hal-hal yang kusuka.
Sebagaimana umumnya mahasiswa akhir yang tengah berusaha menyelesaikan skripsinya, agaknya kecemasanku makin menjadi-jadi. Seringkali kepalaku terasa cenat cenut tak karuan karena overthinking dan cemas luar biasa. Kalau sudah begitu, aku langsung mencari tempat yang sepi dan aman untuk menenangkan diri, sebelum aku 'merusak' hal-hal di sekitarku.
Di tengah suasana hidup yang tegang itu, aku bergabung dengan sebuah biro perjalanan wisata yang membawaku sampai ke titik ini. Singkat cerita, aku direkrut menjadi storyteller dan kisah ini dimulai...
Suatu hari, satu impian terpendamku tercapai. Atasanku membuatkan jadwal untuk tur ke dua candi. Jujur saja, aku melakukan riset ugal-ugalan untuk ini karena topik tentang candi adalah topik favoritku. Tentu saja aku tidak hanya membaca sekilas info tentang candi tersebut, aku juga mencari tahu konsep keagamaan yang melatari pembangunan candi. Kebetulan, aku punya rasa ingin tahu yang tinggi pula.
Berbulan-bulan kemudian, sejak aku 'mendalami' konsep religi Saiwa-Sogata, aku mulai bertanya-tanya, Bagaimanakah Tuhan itu?
Patung/arca yang kulihat di candi-candi selama ini terlihat memiliki power yang tak bisa kujelaskan. Apalagi melihat keindahan seni ukir era Singhasari. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana konsep ketuhanan itu? Agama Hindu dan Buddha penuh dengan filosofi yang kiranya mampu membuatku tertarik. Apalagi Buddha yang welas asih dan penuh makna itu makin membuatku berpikir. Bagaimana bisa Tuhan diwujudkan kekuatannya dengan rupa manusia, mengapa harus memuja banyak dewa untuk hal-hal tertentu? Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa? Yang mampu melakukan segalanya tanpa didikte dan dibatasi oleh suatau hal.
Beralih ke rumah Tuhan selanjutnya. Suatu hari, aku mengunjungi sekolah Susteran Ursulin di Kota Malang. Biarawati yang menemaniku dan temanku, mengajak kami ke gereja di dalam lingkungan sekolah tersebut. Kami mengobrolkan banyak hal, terutama tentang agama Katolik, siapa saja patung-patung yang ada di gereja dan mengapa mereka harus ditempatkan di sana. Kami juga membicarakan perihal apa-apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh tokoh agama terutama Biarawati Katolik.
Sepulang dari sana, pikiranku berkelana. Aku masih memikirkan tentang Tuhan. Sampai akhirnya aku menyadari satu hal. Satu sifat Tuhan yang kusembah selama ini yaitu "berbeda dengan makhluk-Nya". Sampai usiaku yang kini menginjak 22 tahun, aku baru benar-benar paham maksud dari sifat itu beserta dengan makna Surah Al Ikhlas yang sepertinya hanya sekedar kuhapal tanpa menyelami maknanya secara mendalam.
Kau tahu? Aku tidak tahu wujud Tuhan yang aku puja-puja ini, yang aku turuti perintah dan larangan-Nya. Aku hanya menjalankan apa yang diajarkan padaku tanpa berani mempertanyakan alasan mengapa aku harus menyembah-Nya. Mereka hanya bilang bahwa Allah adalah Tuhan alam semesta yang sebenarnya, entah bagaimana reaksi mereka andai aku mempertanyakan-Nya.
Jika makhluk Tuhan memiliki kepala, tangan, kaki, dan nafsu, maka seharusnya Tuhan lebih dari konsep yang sederhana itu. Tuhan tidak terikat batasan duniawi, karena Dia adalah "Tuhan". Tuhan dalam benakku adalah entitas yang kekuasan-Nya absolut, mampu melakukan apapun sesuai kehendak-Nya tanpa dihalangi oleh apapun. Tentu saja Dia berbeda dengan ciptaan-Nya. Tuhan tidak bisa diserupakan dengan makhluk-Nya. Sebagai Tuhan, Dia harus melampaui semua itu. Ini masuk akal menurutku.
Agama lain mengarcakan kekuatan Tuhan mereka, salah satunya agar mereka dapat terbantu untuk membayangkan Tuhan saat memuja-Nya. Mereka menggunakan berbagai macam simbol, tapi Tuhan yang aku puja tidak pernah menyuruhku untuk menggunakan simbol-simbol supaya cepat terhubung dengan-Nya. Aku hanya perlu melakukan gerakan sebagai bentuk "upacara puja" yang kulakukan 5 kali sehari setiap hari sampai mati. Aku tak perlu menyalakan dupa atau menabur bunga, cukup tempat dan pakaian yang bersih serta niat yang simpel.
Ketika yang lain memerintahkan para agamawannya untuk hanya memakan sayuran dan menahan beberapa nafsu manusiawi. Tuhan yang kupuja juga memiliki seabrek aturan dan larangan. Tapi karena Dia Yang Menciptakan semua hal yang ada di semesta ini, maka Dia Tahu apa yang dibutuhkan oleh ciptaannya. Ketika kaum brahmana dilarang makan daging, Tuhanku memperbolehkan makan daging kecuali daging-daging tertentu yang ternyata banyak mudharatnya. Aku sempat bersafari ria di twitter dan sempat membaca topik tentang vegetarian. Katanya, orang-orang vegetarian yang kurang protein hewani terlihat kurang sehat daripada orang-orang yang biasa mengonsumsi protein hewani. Wah, Tuhanku benar!
Tuhan tidak melarang makhluknya untuk berkembang biak, namun dengan syarat tertentu. Siapapun yang mampu, maka ia boleh menikah, menyalurkan nafsu, dan memiliki keturunan. Manusia punya nafsu, maka Tuhan memberikan solusi untuk memenuhinya dengan cara yang benar supaya hidupnya tidak susah di kemudian hari. Rupanya agama yang kuanut ini cukup longgar dan manusiawi.
Hukum Tuhan juga adil. Siapapun bisa mendapatkan pengampunan tergantung kehendak Tuhan, tapi tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Jadi ini rasanya menjadi mualaf dalam agama sendiri. Sebenarnya, aku tidak sedang mencari Tuhan lain. Aku hanya 'mencari' Tuhanku. Dan Tuhan memberiku jawaban. Seolah Dia membiarkanku keluar masuk rumah Tuhan "lain" untuk menemukan-Nya.
Dan inilah akhir dari perjalananku mencari Tuhan... terima kasih kepada Tuhan yang mengizinkanku untuk terus memujanya sampai akhir hayat.
***
Di jalan yang kulalui, aku mencari tanpa menyadari
Di hadapan singgasana, aku mengaguminya
Segala pujasastra terpatri dalam pikiran
Dan ia mempersoalkan apa yang kuyakini hari ini
Di tempat lain, sosok-sosok dihiasi lilin
Namun riwayat mereka tak sama
Dua dasawarsa lebih dua puluh empat bulan
Hitungan semakin mundur menuju pralaya
Pikiran melayang, menggapai-gapai kesadaran
Bertapa dengan logika... nurani pun padam sejenak
Kuterima takdir sebagai pemuja yang setia hingga akhir hayat
Yang terikat kekal sampai hari kebangkitan
Comments
Post a Comment