Candi Secara Umum (sebagai catatan pribadi)
Candi merupakan sebutan untuk
seluruh monumen dari bahan ba-tu dan bata berupa kuil, pemandian, gapura,
pening-galan masa Hindu-Buda dari abad ke-5 hingga 15 M. Kata candi berasal
dari ”candi-ghra”, artinya rumah candika. Candika=dewi Durga, seorang dewi yang
berhubungan erat dengan kematian. Bangunan yang berhubungan kematian ialah
bangunan pemakaman, oleh karena itu di dalam candi sering terdapat pripih
semacam periuk yang menyimpan abu jenazah (Sudarmono, 1979: 47). Pemahaman yang
kabur, bahwa candi untuk menyebut semua bangunan peninggalan kesenian Indonesia
Hindu, baik yang berupa stupa, wihara, istana, pemandian dan sebagainya, atau
pun yang betul-betul candi.
Thomas Stamford Raffles, seorang
Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda, menganggap candi sebagai
makam untuk para raja dan orang terkemuka. Istilah yang lazim digunakan adalah “cungkup”.
Cungkup merupakan bangunan yang menaungi makam orang-orang penting.
Saat itu, kira-kira dua abad setelah
Majapahit, Kerajaan Hindu-Buddha terakhir runtuh, masyarakat telah berganti
keyakinan menjadi Islam, sehingga peradaban dan kebudayaan pun turut berubah. Masyarakat
Islam tidak mengenal bangunan-bangunan kuno/kuil yang berada di sekitar mereka.
Mereka hanya memahami bahwa bangunan-bangunan itu dibangun oleh wong
kuna/budha/kapir. Ada kemungkinan masyarakat mengenal candi sebagai makam atau
cungkup saat candi-candi tersebut dibongkar pondasinya dan ditemukan sebuah
peti pripih yang nampak seperti peti abu jenazah. Masyarakat tahu benar apa
yang menjadi inti dan benda berharga dari candi. Hal ini menjelaskan usaha
masyarakat untuk memahami peradaban yang mendahului mereka.
Menurut arkeolog Soekmono dalam
disertasinya yang berjudul “Candi: Fungsi dan Pengertiannya”, candi bukanlah makam,
melainkan kuil. Konsep Dewaraja yang dikenal masyarakat Jawa kuno juga dikenal
di Kamboja kuno, yaitu seorang raja atau bangsawan yang sudah meninggal
dianggap bersatu dengan dewa. Mereka didharmakan (dimonumenkan) di candi dengan
wujud arca atau lingga yang kemudian dipuja. Rupa arca perwujudan didasarkan
pada aliran atau kepercayaan yang dianut oleh raja atau bangsawan tersebut. Misalnya,
Gayatri Rajapatni yang menganut agama Sogata atau Buddha diarcakan sebagai Prajna
Paramita dari aliran Mahayana.
Adapun pripih adalah peti yang
biasanya ditanam dalam perigi candi atau beberapa bagian di lingkungan candi.
Pripih berisi abu, pasir, dan relik-relik atau kekayaan tanah, batu mulia,
logam, dan biji-bijian?. Soekmono menganggap pripih sebagai inti dari suatu
bangunan candi. Pripih tidak selalu di tanam dalam perigi tetapi tersimpan juga
pada bagian-bagian lain candi bahkan atap candi, sehingga tidak ada hubungannya
dengan pemakaman.
Pembangunan candi mengacu pada Kitab
Manasara Silpasastra dan Silpa Prakarsa dan diawasi oleh seorang acarya
atau guru yang disebut sthapaka (arsitek pendeta) dari kaum Brahmana
yang telah memenuhi syarat. Sedangkan para “tukang”nya disebut silpin
yang terdiri atas 4 unsur yakni sthapati (arsitek perencana) yang
memegang peranan utama dalam pelaksanaan pembangunan, sutragrahin
sebagai pelaksana dan pemimpin umum teknis, taksaka sebagai ahli pahat,
dan vardhakin sebagai ahli seni hias.
Candi-candi Jawa berlanggam Siwa dapat dikenali dari relung-relung pada badan candi yang berjumlah 5 buah pada setiap sisi bidang penampil, 2 diantaranya mengapit pintu masuk bilik candi. Sementara pada candi-candi Buddha kemuncaknya berbentuk stupa. Namun ada pengecualian seperti pada Candi Jawi dan Candi Singosari yang merupakan simbol sinkretisme Siwa-Buddha.
Sumber:
- Soekmono. 2017. Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
- Rangkuti, Nurhadi. (1995). Candi dan Konteksnya: Tinjauan Arkeologi Ruang. Berkala Arkeologi, 15(3), 37–42.
- Sumadi. (2011). Various Decorative Of Kala As An Ornamental Art Works. Ornamen, 8(1).
Comments
Post a Comment