Simpang Siur Berita Tentang Arca Joko Dolog

 Arca Joko Dolog berada di tengah hiruk pikuk Kota Surabaya. Arca ini terletak di Jl Taman Apsari, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya Pusat. Lokasi lebih detail yaitu di seberang Gedung Negara Grahadi dan di belakang Taman Apsari yang merupakan tempat Monumen Gubernur Suryo berdiri atau di sebelah selatan dari kedua lokasi tersebut. Arca Joko Dolog diletakkan di joglo terbuka yang dinaungi oleh tiga pohon beringin. Di halamannya terdapat beberapa arca tak dikenal, arca Wisnu, arca Ganesha, arca Dwarapala, Lingga Yoni, Lingga dengan hiasan Kirtimukha, dan lain-lain. Seluruh artefak di halaman situs Joko Dolog tidak memiliki keterangan informasi.

Sosok Arca Joko Dolog berwujud Buddha Aksobhya. Pose tangannya adalah mudra bhumisparsha atau memanggil bumi sebagai saksi. Di bagian lapik/dudukan arca tertulis inkripsi atau yang dikenal dengan Prasasti Wurare. Berisi tentang kisah Mpu Bharada, seorang pendeta Buddha yang membelah Jawa menjadi Janggala dan Panjalu untuk menghindarkan perebutan kekuasaan antara dua putra Raja Airlangga. Inkripsi ditutup dengan berita keberhasilan Kertanegara dalam menyatukan seluruh wilayahnya. Sekilas informasi bahwa Kertanegara berambisi untuk menyatukan Dwipantara di bawah kekuasaan Mandala Singosari.

Informasi mengenai asal dari Arca Joko Dolog masih simpang siur. Menurut berita Belanda, arca ini berasal dari Kandang Gajah, Bejijong, Trowulan. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Max Nihon yaitu arca Joko Dolog berasal dari Candi Jawi berdasarkan pemberitaan Negarakertagama yang menyebut bahwa Candi Jawi pernah memiliki Arca Aksobhya. Sementara itu, Poerbatjaraka mengatakan bahwa Aksobhya dari Candi Jawi dipindahkan ke Trowulan.

Dilansir dari detikjatim, menurut juru kunci situs Arca Joko Dolog, arca ini dibuat oleh Mpu Bharada tahun 1289. Mayoritas para ahli berpendapat bahwa Arca Joko Dolog merupakan perwujudan dari Kertanegara berdasarkan inkripsi Wurare. Kertanegara merupakan Jnanasivabajra dalam prasasti tersebut. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa Kertanegara ditahbiskan sebagai Jina Aksobhya. Namun, ada pendapat lain yang tidak begitu populer mengenai asal arca Joko Dolog dan siapa yang ditahbiskan sebagai Aksobhya. Analisa tersebut dikemukakan oleh tiga sejarawan, yaitu Amrit Gomperts, Arnoud Haag dan Peter Carey. Analisa ini berdasarkan laporan penemuan oleh Henry Maclaine Pont, arsitek dari Belanda.

Tahun 1925, Maclaine Pont melakukan penggalian di kawasan pekuburan di Kedung Wulan yang berbatasan dengan Trowulan. Maclaine Pont mencari lokasi Lemah Tulis yang merupakan tempat Mpu Bharada bertapa berdasarkan Serat Calon Arang dan Negarakertagama. Diduga Lemah Tulis adalah nama kuno desa Kedung Wulan. Ia menemukan Paviliyun yang dianggapnya sebagai kuil kecil dan dibangun di tengah pekuburan. Ia juga menemukan Arca Durga Mahisasura Mardhini tak jauh dari lokasi paviliyun tersebut. Barang penemuan yang paling penting adalah kendi berisi abu kremasi anak-anak. Inkripsi pada lapik arca Joko Dolog yaitu Wurare secara etimologi berasal dari "awu" atau abu dan "rare" atau anak-anak. Hal ini menguatkan dugaan bahwa arca Joko Dolog berasal dari area pekuburan di Kedung Wulan.

Amrit Gomperts, dkk terus menggali informasi dengan wawancara warga di sekitar pekuburan. Mereka menemukan fakta lanjutan bahwa selain arca Durga, ditemukan pula arca Dewi dengan payudara besar yang membawa anak di lengan kirinya serta anak lainnya berdiri di dekat kakinya. Berdasarkan hal itu maka disimpulkan bahwa Arca tersebut adalah Hariti, dewi pelindung anak-anak dalam kepercayaan Buddhisme. Simpulan lebih lanjut yang dikemukakan Gomperts didasarkan pada penemuan kedua arca tersebut yaitu kawasan pekuburan di Kedung Wulan adalah tempat ritual Tatrayana.

Peter Carey melacak dan meneliti peta yang dibuat oleh Wardeenar yang memetakan Trowulan. Dengan bukti-bukti yang telah dipaparkan sebelumnya, Amrit Gomperts, dkk sepakat bahwa lokasi kadewaguruan Mpu Bharada yang disebut Lemah Tulis berada di Kedung Wulan, Trowulan.Mereka juga sepakat bahwa Arca Joko Dolog merupakan perwujudan dari Mpu Bharada. Arca Joko Dolog dipindahkan dari Trowulan ke Surabaya oleh Residen Surabaya, A.M. Th de Salis pada tahun 1817.

Dilansir dari Asisi Channel, Kertanegara menerbitkan prasasti tersebut pada tahun 1289 untuk mematahkan kutukan Mpu Bharada atas pembelahan Jawa. Diketahui bahwa Kertanegara memiliki visi untuk menyatukan Dwipantara. Visi tersebut tidak dapat terlaksana apabila belum menguasai Panjalu dan Janggala. Namun, Kertanegara dan Singosari akhirnya mengalami mahapralaya. Kertanegara merupakan penganut Buddha yang taat. Ia menganut Tantrayana yang dilebur dengan Siwa Bhairawa. Tapi dalam ritualnya, menurut pandangan Asisi hanya simbolis atau secara hakikat.


Sumber:

Youtube Asisi Channel, "Joko Daolog Site, Bhairava Rituals of King Kertanegara & Iron Dome of Ancient Java".

Seno Joko Suyono, "Arca Joko Dolok: Antara Kertanegara dan Mpu Bharadah (sebuah tinjauan berdasar prasasti Wurare)". Jurnal Dekonstruksi

"Sejarah Pembuatan dan Penemuan Arca Joko Dolog". detikjatim



Comments

Popular Posts